Yang Muda ,Yang Bermimpi, dan Bertabur Karya
Resume Keempat belas
Materi : Pengalaman Menulis Buku
Narasumber : Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd.
Moderator : Bunda Kanjeng
Peresume : Endartiningtyas Sulistiyo, S.Pd.

Muda. Penuh mimpi. Bertabur karya. Itu kesan yang saya tangkap dari narasumber kuliah online malam kedua bulan September ceria. Ibu Ditta WidyaUtami, S.Pd. Itulah nama lengkap beliau. Seorang guru IPA di SMP N 1 Cipeundeuy.
Berawal dari Mimpi
Saat masih kuliah, Ditta muda pernah menuliskan seratus target mimpi di karton besar yang ditempel di dinding kamar kos. Salah satunya adalah mimpi menulis buku.
Satu per satu per satu mimpi itu terwujud. Satu per satu tulisan di dinding dicoret agar ada ruang untuk mimpi-mimpi baru. Semakin lama semakin banyak mimpi yang dicoret karena Allah berkenan mewujudkan mimpi itu.
Mimpi menulis buku sebenarnya sudah terwujud ketika Ditta muda dan kawan-kawannya mengikuti lomba kreativitas mahasiswa tingkat jurusan dan meraih juara dua dengan skor beda tipis dari peringkat pertama.
Saat itu mahasiswa Pendidikan Kimia UPI dan kawan-kawannya itu membuat buku "Seri Petualangan Kimia". Karena hanya dibuat satu sebagai prototipe, mimpi menulis buku belum dicoret dari atas karton. Harapan untuk menulis buku itu masih ada.
Aktif di MGMP dan Komunitas Literasi
Sepuluh tahun kemudian, Bu Ditta menjadi panitia Workshop Best Practice MGMP IPA Kabupaten Subang. Hasil workshop itu dibukukan dan atas kepercayaan Bu Hj.Rita Rosidah M.,M.Pd.,ketua MGMP IPA Kabupaten Subang, Bu Ditta dan Bu Suprapti diminta menjadi penyunting.
Setelah Buku "Jejak Langkah Guru Subang", beliau ikut menulis dalam buku antologi bersama komunitas-komunitas literasi yang beliau ikuti.
Maret -April 2020 adalah bulan penuh kebahagiaan bagi ibu satu putra ini karena dalam satu bulan itu buku solo pertama beliau berjudul "Lelaki Di Ladang Tebu" lahir. Buku kumpulan cerpen pendidikan ini mengandung konflik dari kisah nyata yang dinarasikan ulang menjadi sebuah cerpen.
Buku itu ditulis untuk mengabadikan kisah-kisah para murid yang sifat baik maupun kurang baiknya menjadi guru kehidupan , pemberi pelajaran yang berarti dalam hidup ini.
Ikut Kelas Menulis Om Jay
Tanggal 26 Maret 2020 istri dari Muhammad Kholil, S.Pd.I ini bergabung dalam grup menulis, bersama Om Jay, gelombang 8. Namun, kemudian berpindah ke gelombang 7 karena masih ada kuota 2 orang.
Banyak manfaat dan kebahagiaan yang dirasakan dari mengikuti grup ini. Misalnya ketika mendapatkan hadiah kejutan dari Om Jay dan kawan-kawan.
Di angkatan ketujuh itu, Om Jay selalu menginisiasi peserta untuk terus menulis setiap hari. Sesekali di hari jeda materi, beliau mengirim foto ( ketoprak, kucing, kue kacang atau apa pun) untuk dijadikan ide menulis.
Tak berhenti sampai di situ. Melalui grup menulis bersama Om Jay, pemilik email dittawidyautami@gmail.com ini kembali ikut menulis dua buku karya bersama. Pertama, bersama Prof.Eko Indrajid, sedangkan yang kedua bersama Ibu Kanjeng, Pak Brian dan teman-teman guru blogger lainnya.
Buku karya bersama 43 guru blogger berjudul "Pena Digital Guru Milenial" itu merupakan karya bersama keenam bagi Bu Ditta. Penulisan autobiografi para guru sekaligus blogger ini dibimbing oleh Ibu Kanjeng.
Buku Mayor Pertama
Senin, 13 April 2020 peserta grup menulis bersama Om Jay mendapat materi tentang Menulis Buku dalam Seminggu dari Profesor Eko. Penyampaian yang luwes, sikap yang bersahaja membuat Bu Ditta menikmati pemaparan dari sang Profesor. Hingga akhirnya beliau menyampaikan tantangan menulis buku dalam seminggu berdasarkan tema yang ada di chanel youtube Ekoji Chanel. Peserta yang siap menerima tantangan bisa langsung mengirimkan judul dan outline kepada Prof.Eko.
Proses Menulis Buku Bersama Prof. Eko
Tanggal 15 April 2020 judul dan outline Bu Ditta diacc. Setelah itu, setiap hari wanita berkerudung ini menulis satu bab hingga 21 April 2020 selesai. Selanjutnya tinggal bimbingan untuk proses editing. Menurut bu Ditta, inilah salah satu rahasia dalam menulis buku. Selesaikan dulu draf dari daftar isi hingga daftar pustaka, baru kemudian diedit. Jika diedit tiap bagian, buku tidak akan selesai. Atau bisa selesai, tapi dalam waktu yang relatif lama karena proses editinglah yang sebenarnya memakan porsi waktu paling banyak dalam proses pembuatan buku.
Dua puluh orang penulis dipertemukan dalam satu grup oleh Prof. Eko. Dari jumlah tersebut, 9 orang berhasil menerbitkan buku.
Proses menerbitkan buku bersama Prof.Eko berasa seperti menulis skripsi. Ada bimbingan. Ada deadline. Hanya saja, bagi Bu Ditta, kali ini terasa lebih menyenangkan.
Masa Bimbingan
Bu Ditta bersyukur di tengah kesibukan mengadakan kuliah online, mengisi webinar, dan sebagainya, Prof. Eko masih menyempatkan diri membimbing para penulis pemula itu. Selain melalui WAG, beliau juga membimbing melalui google meet dan zoom.
Pada bimbingan klasikal pertama, setiap peserta mempresentasikan naskah masing-masing. Lalu Prof.Eko memberikan masukan untuk revisi. Pada bimbingan klasikal kedua, dibahas teknis jadwal pengiriman naskah ke penerbit, jadwal metting dengan penerbit, dan sebaginya.
Pengumuman
Tanggal 4 juni 2020 dilaksanakan pengumuman lewat zoom yang dihadiri oleh Pak Joko dari Penerbit Andi, Om Jay, Prof.Eko beserta anak didik beliau. Saat itu Prof.Eko berulang kali membesarkan hati para penulis agar memantapkan hati untuk menerima apa pun hasilnya. Karena dari semua naskah yang masuk, masih ada yang harus revisi minor, mayor, dan ada yang langsung diterima. Bu Guru kelahiran Subang, 23 Mei 1990 ini bersyukur karena naskah"Menyongsong Era Baru Pendidikan termasuk naskah yang langsung diterima.
Proses Di Penerbit
Sejak pengumuman, proses ada di penerbit mayor. Editing, layout dan sebagainya. 12 Juli 2020 Ibu muda bertabur karya ini menerima naskah proof. Naskah siap cetak, tapi butuh ceking akhir dari penulisnya. Naskah itu dikirim langsung ke penulis beserta surat perjanjian kontrak. selesai dicek, naskah Bu Ditta dikirim kembali ke penerbit. Hingga akhirnya, 7 Agustus Bu Ditta menerima foto sampul bukunya.
Menyongsong Era Baru Pendidikan
Bagi Bu Ditta, menulis itu ada tiga jenis.
1. Menulis ntuk mengabadikan momen.
Contoh : menulis kisah saat mendapatkan kejutan dari Om Jay, saat menjadi pemenang lomba blog dan sebagainya.
2. Menulis untuk mengabadikan buah pikiran.
Contoh : Menulis Best Practice, PTK, artikel ilmiah atau tulisan apa pun yang membutuhkan referensi lain.
3. Menulis untuk kebutuhan
Misalnya untuk mendapatkan kesenangan, menyalurkan hobi, dan sebagainya.
Buku "Menyongsong Era Baru pendidikan yang berasal dari tayangan youtube Ekoji chanel berjudul Unesco Competency Frammework For Teacher ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan guru saat ini. Peserta didik yang kita hadapi saat ini mungkin termasuk generasi Z atau A, generasi yang dekat dengan teknologi. Oleh karena itu, guru pun harus bisa menguasai atau minimal menggunakan berbagai teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Meskipun hanya alat, tapi pemanfaaatan teknologi dalam proses pembelajaran bahkan telah menjadi kriteria kompetensi pedagogi dan profesional bagi guru. Selain itu, pandemi corona mengharuskan pendidik mulai menggeser proses pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran-pembelajaran inovatif dengan pemanfaatan teknologi.
Buku "Menyongsong Era Baru Pendidikan" ibarat appetizer (hidangan pembuka) dalam suatu jamuan makan yang berfungsi merangsang nafsu makan sebelum hidangan utama (main course) dinikmati. Suguhan yang terkandung dalam buku ini diharapkan mampu meningkatkan semangat guru untuk mengembangkan kompetnsi di bidang teknologi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Kita harus optimis dalam menyongsong era baru pendidikan karena semua akses informasi bisa didapat dengan mudah, kapan saja, di mana saja dan oleh/dengan siapa saja. Proyek Palapa Ring atau "Tol Langit" semoga semakin memudahkan akses teknologi informasi di negera berbentuk kepulauan ini.
"Teruslah memberi arti pada setiap orang yang kau temui. Dalam setiap hal yang kau lalui dan untuk setiap waktu yang kau miliki." Itulah kalimat penutup dari Bu Ditta.
Ayo terus menulos dan wujudkan mimpimu menerbitkan buku
BalasHapusSiap, Om. Semoga Allah izinkan. Aamiin.
HapusWaaah tutur bahasanya unik, keren. Terima kasih sudah membuat resumenya, Bu 😊🙏🏻
BalasHapusSama-sama, Bu Ditta. Terima kasih telah berkenan berkunjung.
HapusBagus bu, lanjut terus mnulisnya
BalasHapusTerima kasih, Bu Yanti.
HapusKeren Bu tulisannya...
BalasHapusTerima kasih, Bu Hayati.
Hapus👍👍
BalasHapusTerima kasih, Pak Bahrudin.
HapusMuda berkarya 👍👍👍
BalasHapusTerima kasih, Bu Imas.
Hapus